JAKARTA - Upaya menjaga ketahanan pangan di Aceh terus diperkuat melalui langkah nyata penyerapan gabah petani oleh Bulog.
Hingga awal tahun 2026, Perum Bulog Kantor Wilayah Aceh telah merealisasikan penyerapan sebanyak 10 ribu ton setara beras. Capaian ini menjadi bagian dari target pengadaan dalam negeri sebesar 134 ribu ton sepanjang tahun 2026.
“Beras yang kita serap ini merupakan hasil panen milik petani untuk periode Januari dan Februari,” kata Pimpinan Wilayah Bulog Aceh, Ihsan di Banda Aceh, Rabu. Penyerapan tersebut difokuskan pada hasil panen awal tahun yang mulai masuk ke sejumlah sentra produksi. Langkah ini menunjukkan komitmen Bulog dalam menyerap hasil tani secara maksimal.
Pada tahun 2026, Kanwil Bulog Aceh memang mendapat target pengadaan beras dalam negeri sebanyak 134 ribu ton hingga akhir tahun. Target tersebut ditujukan guna memenuhi kebutuhan pangan dan program pemerintah yang berjalan di Aceh. Dengan realisasi 10 ribu ton di awal tahun, proses pengadaan masih akan terus digenjot pada musim panen berikutnya.
Skema Pembelian Sesuai Harga Pemerintah
Dalam pelaksanaannya, Bulog Aceh membeli gabah petani melalui mitra resmi dengan mengacu pada harga pembelian pemerintah. Untuk gabah kering panen di tingkat petani, harga yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Skema ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi pendapatan petani.
“Kami siap membeli seluruh hasil panen milik petani yang ada di Aceh melalui mitra-mitra resmi Bulog termasuk juga melakukan jemput bola,” katanya. Pernyataan tersebut menegaskan kesiapan Bulog untuk menyerap produksi tanpa membatasi volume. Sistem jemput bola juga dilakukan agar gabah petani dapat terserap optimal.
Kebijakan pembelian sesuai HPP menjadi jaminan bagi petani agar tidak dirugikan oleh fluktuasi harga pasar. Dengan adanya kepastian harga, petani memiliki rasa aman dalam menjual hasil panennya. Hal ini sekaligus mendorong semangat produksi pada musim tanam berikutnya.
Wilayah Panen yang Jadi Prioritas
Bulog Aceh saat ini terus bergerak membeli gabah hasil panen di beberapa kabupaten yang mulai memasuki masa panen. Daerah tersebut antara lain Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Tenggara. Wilayah-wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi padi di provinsi tersebut.
“Insya Allah kita akan optimalkan pembelian pada panen puncak musim rendeng yang akan berlangsung pada Maret hingga April tahun ini,” katanya. Momentum panen puncak diyakini akan meningkatkan volume serapan secara signifikan. Bulog pun mempersiapkan strategi agar seluruh hasil panen dapat terserap maksimal.
Panen musim rendeng menjadi periode penting dalam siklus produksi padi di Aceh. Pada fase ini, produksi biasanya meningkat dibandingkan awal tahun. Oleh sebab itu, optimalisasi pembelian menjadi kunci pencapaian target pengadaan tahunan.
Optimisme Capai Target Tahunan
Bulog Aceh menyatakan optimistis target pengadaan beras dalam negeri sebesar 134 ribu ton dapat tercapai. Keyakinan tersebut didasarkan pada proyeksi panen puncak yang berlangsung pada April serta pembelian musim gadu mendatang. Dengan kombinasi dua musim panen, serapan diharapkan meningkat signifikan.
Keberhasilan mencapai target sangat penting untuk menjaga ketersediaan stok beras di wilayah Aceh. Stok tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendukung berbagai program pemerintah. Stabilitas pasokan juga berperan dalam menjaga harga tetap terkendali.
Sinergi antara Bulog, mitra, dan petani menjadi faktor penentu dalam proses ini. Dukungan petani untuk menjual hasil panen melalui jalur resmi akan mempercepat realisasi target. Dengan langkah terkoordinasi, target tahunan diyakini dapat terpenuhi.
Imbauan bagi Petani Aceh
Bulog Aceh mengimbau petani agar tidak perlu khawatir terhadap harga jual gabah. Pihaknya memastikan siap membeli seluruh hasil panen petani di provinsi yang berpenduduk sekitar lima juta jiwa tersebut. Jaminan ini diharapkan memberikan rasa tenang bagi para petani.
Selain itu, Pimpinan Bulog Aceh juga mengingatkan agar petani merawat tanaman padi hingga mencapai umur panen yang tepat. Petani diminta tidak memaksakan panen sebelum waktunya demi menjaga kualitas hasil. Perawatan yang optimal akan berdampak pada mutu beras setelah proses penggilingan.
"Tanaman padi yang sehat di harapkan hasil giling berasnya juga bagus dan nantinya akan dinikmati oleh warga Aceh dalam bentuk beras bantuan pangan dan beras SPHP," katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kualitas hasil panen bagi keberlanjutan program pangan. Dengan kerja sama semua pihak, ketahanan pangan Aceh diharapkan semakin kuat sepanjang tahun 2026.