Industri Tembakau

Industri Tembakau Dinilai Beri Kontribusi Signifikan bagi Ekonomi Nasional

Industri Tembakau Dinilai Beri Kontribusi Signifikan bagi Ekonomi Nasional
Industri Tembakau Dinilai Beri Kontribusi Signifikan bagi Ekonomi Nasional

JAKARTA - Industri hasil tembakau kembali menjadi sorotan karena kontribusinya yang besar terhadap penerimaan negara. 

Sektor ini dinilai tetap menjadi salah satu penopang fiskal yang konsisten di tengah dinamika ekonomi nasional. Pemerintah menegaskan bahwa peran industri ini tidak hanya terbatas pada produksi, tetapi juga berdampak luas pada penerimaan negara.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut, cukai hasil tembakau (CHT) menyumbang cukai hingga Rp 300 triliun pada 2025 ke negara. 

Ketua kelompok tanaman semusim, Direktorat Tanaman Semusim, Kementan, Yudi Wahyudi, menyatakan besarnya cukai itu membuat produk tembakau berperan signifikan dalam mendongkrak ekonomi nasional. “Itu kurang lebih sekitar 96 persen itu adalah sumbangan dari cukai hasil tembakau,” kata Yudi dalam diskusi “Menjaga Kualitas dan Keberlangsungan Industri Hasil Tembakau” di Kementan, Jakarta.

Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan betapa strategisnya posisi industri hasil tembakau dalam struktur penerimaan negara. Angka Rp 300 triliun menjadi gambaran nyata bagaimana sektor ini menopang kas negara secara langsung. Dominasi 96 persen dari total cukai juga memperlihatkan ketergantungan penerimaan pada komoditas ini.

Peran di Tingkat Petani dan Daerah

Selain berkontribusi pada fiskal, pertanian tembakau juga menjadi komoditas yang menghidupkan masyarakat di akar rumput, terutama pedesaan. Tanaman ini menjadi sumber penghasilan utama di sejumlah sentra produksi nasional. Keberlangsungannya sangat berkaitan dengan kesejahteraan petani dan keluarga mereka.

Berdasarkan data Kementan, pada 2025 produksi tembakau Tanah Air mencapai 300.000 ton yang berasal dari sejumlah daerah. Jawa Timur menjadi provinsi dengan lahan tanam paling luas yakni 110.000 hektar dan produksi 146.000 ton. Kemudian, Nusa Tenggara Barat menghasilkan 56.000 ton tembakau dari luas tanam 50.000 hektar.

Lalu, Jawa Tengah menyumbang 46.000 ton dari luas lahan 40.000 ton, Jawa Barat 8.000 ton dari 9.400 hektar, serta sejumlah daerah di luar Jawa. “Jadi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, itu merupakan salah satu sentra produksi tembakau di Nusantara ini,” ujar Yudi. Data tersebut menegaskan bahwa Pulau Jawa masih menjadi pusat produksi utama tembakau nasional.

Dampak Sosial dan Tenaga Kerja

Ekosistem pertanian tembakau itu melibatkan 571.257 kepala keluarga (KK) dengan asumsi setiap keluarga terdiri empat orang. Dengan demikian, setidaknya 2 juta orang menggantungkan hidupnya pada pertanian tembakau. Angka ini menunjukkan bahwa komoditas tembakau memiliki dampak sosial yang luas dan nyata.

Selain di sektor hulu, Industri Hasil Tembakau (UHT) juga menyerap tenaga kerja hingga 4 juta orang. Rantai pasoknya mencakup petani, buruh tani, pekerja pabrik, distribusi, hingga sektor pendukung lainnya. Hal ini menjadikan industri tembakau sebagai salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di dalam negeri.

“Jadi total yang terlibat dari mulai hulu sampai hilir di tembakau itu hampir 6 juta. Nah inilah betapa besarnya, signifikan sekali dampak produksi tembakau,” tutur Yudi.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dampaknya tidak hanya pada penerimaan negara, tetapi juga pada keberlangsungan jutaan mata pencaharian. Stabilitas industri ini menjadi faktor penting bagi ketahanan ekonomi masyarakat.

Multiplier Effect dan Devisa Negara

Dalam forum yang sama, Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Edi Sutopo menyebut, sumbangan Rp 300 triliun baru hanya dari cukai hasil tembakau. Menurutnya, berdasarkan kajian AMTI pada 2022, multiplier effect dari produk tembakau mencapai Rp 710,3 triliun. Nilai tersebut mencerminkan dampak ekonomi turunan yang sangat besar.

Multiplier effect itu mencakup perputaran ekonomi di sektor perdagangan, transportasi, hingga industri pendukung lainnya. Peran tembakau tidak hanya berhenti pada produksi bahan baku dan manufaktur. Ekosistemnya menciptakan aktivitas ekonomi berlapis yang memperkuat daya beli dan pendapatan masyarakat.

Hal ini menunjukkan produk tembakau berkontribusi terhadap pendapatan negara maupun masyarakat. Kontribusinya terasa dalam bentuk pajak, cukai, serta pergerakan ekonomi daerah. Dengan demikian, keberadaan industri ini memiliki efek domino terhadap berbagai sektor.

Prospek dan Keberlanjutan Industri

“Tahun lalu, tahun 2024 itu devisanya 1,8 miliar, 1,85 miliar dollar AS, tahun 2025 ini sampai dengan Oktober itu sudah 1,9 miliar dollar AS, artinya sudah naik lagi devisa-devisanya,” ujar Yudi. Peningkatan devisa tersebut menunjukkan daya saing produk tembakau Indonesia di pasar global. Tren kenaikan ini menjadi sinyal positif bagi pelaku industri.

Kenaikan devisa memperlihatkan bahwa produk tembakau nasional masih memiliki permintaan di luar negeri. Ekspor menjadi salah satu penopang tambahan selain pasar domestik. Hal ini memperkuat posisi industri tembakau sebagai penyumbang devisa yang stabil.

Secara keseluruhan, industri hasil tembakau menunjukkan peran strategis baik dari sisi fiskal, sosial, maupun ekonomi makro. Kontribusi Rp 300 triliun dari cukai menjadi fondasi penting penerimaan negara. Ditambah multiplier effect ratusan triliun serta serapan jutaan tenaga kerja, sektor ini tetap menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index