Petani

Hilirisasi Pertanian Dorong Nilai Ekonomi Kelapa dan Produktivitas Petani Meningkat

Hilirisasi Pertanian Dorong Nilai Ekonomi Kelapa dan Produktivitas Petani Meningkat
Hilirisasi Pertanian Dorong Nilai Ekonomi Kelapa dan Produktivitas Petani Meningkat

JAKARTA - Pemerintah menegaskan Indonesia telah mencapai swasembada pangan, menandai posisi tertinggi produksi dan stok beras sepanjang sejarah kemerdekaan.

Sektor pertanian mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 10,52 persen dan menjadi penopang utama PDB nasional. Penghargaan dari organisasi pangan global mengukuhkan kontribusi Indonesia dalam memperkuat sistem pangan dunia.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan fase berikutnya adalah hilirisasi besar-besaran sektor pertanian dan perkebunan. Dukungan anggaran dipastikan mencapai ratusan triliun rupiah selama tiga tahun ke depan. Ia menekankan bahwa hilirisasi bukan sekadar pilihan, tetapi keharusan strategis bagi peningkatan nilai tambah.

Hilirisasi ini bertujuan mengubah bahan baku yang selama ini dinikmati negara lain menjadi produk bernilai tinggi di dalam negeri. Dengan memaksimalkan pengolahan, Indonesia dapat memperoleh pendapatan jauh lebih besar. Strategi ini menjadi langkah krusial untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional melalui sektor pertanian.

Potensi Hilirisasi Kelapa

Amran menegaskan Indonesia adalah produsen kelapa terbesar dunia, dengan harga kelapa saat ini sekitar Rp 1.350 per unit. Jika dilakukan hilirisasi menjadi produk turunan seperti coconut milk, coconut water, dan lainnya, nilainya bisa meningkat hingga 100 kali lipat. Ia mencontohkan bahwa ekspor saat ini Rp 24 triliun, namun jika diolah bisa mencapai Rp 2.400 triliun hingga Rp 5.000 triliun.

“Kita ini nomor satu kelapa terbesar dunia. Harga kelapa kita Rp 1.350. Kalau kita hilirisasi jadi coconut milk, coconut water, dan turunannya, nilainya bisa naik 100 kali lipat. Ekspor kita Rp 24 triliun, kalau diolah bisa jadi Rp 2.400 triliun, bahkan Rp 5.000 triliun,” tegas Amran. Pernyataan ini menegaskan urgensi pengolahan dalam negeri untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.

Selain kelapa, Amran menyoroti komoditas gambir yang 80 persen bahan bakunya dikuasai Indonesia, tetapi pengolahannya sebagian besar dilakukan di luar negeri. Hal ini menyebabkan hilangnya potensi nilai tambah yang seharusnya dinikmati domestik. Ia menekankan bahwa perubahan strategi harus dilakukan segera agar peluang ekonomi tidak terlewatkan.

Strategi Penguatan CPO dan Biofuel

Komoditas Crude Palm Oil (CPO) dikuasai Indonesia dengan pangsa pasar 60–70 persen dunia. Amran menjelaskan bahwa melalui strategi penguatan biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambah CPO bisa meningkat signifikan. Kebijakan ini memungkinkan harga CPO rendah diserap sebagai biofuel domestik, sedangkan harga tinggi bisa diekspor.

“Kalau harga CPO rendah kita serap jadi biofuel dalam negeri, kalau tinggi kita ekspor. Kita bisa mainkan dunia. Sekarang nilainya Rp 549 triliun, bisa jadi Rp 1.500 triliun, bahkan Rp 5.000 triliun kalau hilirisasi penuh,” ujarnya. Strategi ini menegaskan peran Indonesia sebagai pemain utama pasar global sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain nilai ekonomi, hilirisasi CPO juga mendukung pengurangan ketergantungan impor bahan bakar fosil. Pemanfaatan biofuel diharapkan mendorong pertumbuhan industri domestik dan menciptakan lapangan kerja baru. Langkah ini menjadi bagian integral dari transformasi pertanian menjadi sektor ekonomi bernilai tinggi.

Perubahan Cara Kerja dan Tantangan Lompatan Ekonomi

Amran mengingatkan bahwa lompatan besar hanya bisa dicapai jika ada perubahan cara kerja dan keberanian keluar dari zona nyaman. Ia menekankan pentingnya inovasi, konsistensi, dan keberanian mengambil risiko strategis. Tanpa langkah berani, potensi besar dari hilirisasi akan sulit diwujudkan.

Amran menekankan, “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.” Ia menegaskan bahwa organisasi atau individu yang bekerja biasa-biasa saja tidak akan meraih lompatan signifikan. Filosofi ini diterapkan dalam strategi hilirisasi agar produktivitas dan nilai ekonomi komoditas meningkat drastis.

Perubahan sistem kerja dan mindset menjadi kunci percepatan hilirisasi. Masyarakat dan pelaku industri harus siap menyesuaikan diri dengan teknologi, metode pengolahan baru, dan praktik pasar global. Dengan begitu, Indonesia dapat memaksimalkan potensi sumber daya alam dan meningkatkan daya saing internasional.

Aksi Konkret dan Komitmen Nasional

Amran menekankan bahwa setelah doa dan perencanaan, saatnya mengambil tindakan nyata. “Hari ini kita sudah doa paling tinggi. Sekarang saatnya bertindak paling tinggi. Doa, mimpi besar, tindakan besar, dan konsisten, itu kunci keberhasilan,” tegasnya. Pernyataan ini menunjukkan tekad kuat pemerintah dalam mendorong transformasi sektor pertanian.

Komitmen ini diimplementasikan melalui alokasi anggaran untuk hilirisasi, penguatan biofuel, dan pengembangan industri turunan kelapa serta komoditas strategis lainnya. Langkah nyata ini menjadi landasan bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan penguatan posisi Indonesia di pasar global.

Selain itu, hilirisasi juga mendorong munculnya industri pendukung seperti pengemasan, distribusi, dan inovasi produk baru. Hal ini memberikan efek multiplikasi yang signifikan bagi perekonomian domestik. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan potensi alam secara maksimal dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index