Tips Aman Puasa bagi Penderita GERD

Panduan Tips Aman Puasa bagi Penderita GERD Saat Bulan Ramadhan

Panduan Tips Aman Puasa bagi Penderita GERD Saat Bulan Ramadhan
Panduan Tips Aman Puasa bagi Penderita GERD Saat Bulan Ramadhan

JAKARTA - Menjalani ibadah puasa Ramadan sering kali menimbulkan kekhawatiran bagi orang yang memiliki gangguan lambung seperti GERD atau asam lambung.

Perubahan jadwal makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali, yakni saat sahur dan berbuka, membuat sebagian orang ragu apakah kondisi mereka akan memburuk. Pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah penderita GERD tetap boleh berpuasa dengan aman.

Perubahan pola makan selama puasa Ramadan memang menjadi tantangan tersendiri bagi yang punya GERD atau gangguan lambung lainnya. 

Kondisi lambung yang sensitif terhadap keterlambatan makan sering kali dikaitkan dengan risiko kambuhnya gejala. Karena itu, penting memahami kapan seseorang aman berpuasa dan kapan sebaiknya menunda terlebih dahulu.

"Apabila anda punya masalah maag yang akut, tentu harus diobati. Masih ada waktu untuk diobati," kata Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, konsultan kesehatan pencernaan, dalam pesan video yang diterima menjelang Ramadan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kondisi akut perlu mendapatkan penanganan medis sebelum memutuskan berpuasa.

"Tapi ketika tidak ada masalah, saat ini tidak kambuh maag-nya, maka tidak ada masalah untuk berpuasa. Yang penting adalah tetap sahur dan berbuka dengan baik," lanjut dr Ari. Artinya, selama kondisi lambung stabil dan tidak sedang meradang, puasa tetap bisa dijalani dengan catatan menjaga pola makan yang tepat.

Kondisi Maag Akut Perlu Penanganan Dulu

Bagi penderita GERD dengan gejala berat seperti nyeri hebat, muntah, atau perih yang terus-menerus, pengobatan menjadi prioritas utama. Mengabaikan kondisi akut justru dapat memperparah iritasi pada lambung dan kerongkongan. Oleh karena itu, pemeriksaan dan terapi perlu dilakukan sebelum memasuki masa puasa.

Penanganan sejak dini memberi kesempatan bagi lambung untuk pulih lebih dulu. Dengan kondisi yang lebih stabil, risiko kekambuhan saat menahan lapar dan haus bisa ditekan. Langkah ini juga membantu penderita menjalani ibadah dengan lebih nyaman dan tenang.

Menunda puasa sementara waktu demi kesehatan bukanlah keputusan yang keliru. Kesehatan tetap menjadi hal utama yang perlu dijaga. Setelah kondisi membaik, barulah puasa dapat dipertimbangkan kembali sesuai anjuran medis.

Puasa Aman Saat Kondisi Terkendali

Pada banyak kasus, penderita GERD justru dapat menjalani puasa tanpa kendala berarti ketika gejala tidak sedang kambuh. Kuncinya terletak pada disiplin menjaga waktu makan dan memilih jenis makanan yang tepat. Sahur dan berbuka tidak boleh dilewatkan agar lambung tidak kosong terlalu lama tanpa asupan yang terkontrol.

Pola makan yang teratur selama Ramadan bisa menjadi keuntungan tersendiri. Jika pada hari biasa jadwal makan sering berantakan, puasa menghadirkan ritme yang lebih konsisten. Kondisi ini membantu lambung beradaptasi dengan pola yang lebih tertata.

Selama sahur, dianjurkan memilih makanan yang tidak merangsang asam lambung berlebihan. Hindari makanan terlalu pedas, asam, atau berlemak tinggi. Saat berbuka, sebaiknya tidak langsung makan dalam porsi besar agar lambung tidak kaget.

Pola Makan Lebih Teratur Saat Ramadan

Dalam banyak kasus, kondisi masalah pencernaan justru membaik saat berpuasa. Jika pada hari biasa pola makan yang berantakan kerap jadi pemicu utama, selama puasa pola makan jadi jauh lebih teratur dan terhindar dari camilan tidak sehat. Hal ini dapat membantu menurunkan frekuensi naiknya asam lambung.

Kebiasaan mengonsumsi camilan sembarangan di luar jam makan sering kali memicu gejala GERD. Saat Ramadan, jeda makan yang jelas antara sahur dan berbuka membuat pola konsumsi lebih terkontrol. Dengan demikian, lambung memiliki waktu istirahat yang cukup.

Namun demikian, kendali tetap berada pada pilihan menu. Jika saat berbuka justru mengonsumsi makanan berlebihan atau terlalu pedas, gejala bisa kembali muncul. Disiplin dan kesadaran diri menjadi kunci keberhasilan menjalani puasa.

Ketenangan Ibadah Berdampak Positif

Selain pola makan yang lebih teratur, berbagai kegiatan positif saat beribadah juga punya efek baik bagi kesehatan lambung. Termasuk salat dan berdzikir yang menenangkan. Aktivitas spiritual tersebut membantu mengurangi stres yang kerap menjadi pemicu gangguan lambung.

"Ketenangan jiwa terjadi pada teman-teman yang memang nanti akan melaksanaan ibadah puasa ramadan, dan kondisi itu merupakan hal yang positif untuk kesehatan lambung," jelas dr Ari. Ketenangan mental terbukti berperan dalam menekan produksi asam lambung berlebih.

Stres dan kecemasan dapat memperburuk gejala GERD. Dengan suasana Ramadan yang lebih reflektif dan penuh ketenangan, banyak orang merasakan perbaikan kondisi pencernaan. Kombinasi pola makan teratur dan ketenangan batin menjadi faktor penting yang saling melengkapi.

Pada akhirnya, keputusan untuk berpuasa bagi penderita GERD sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu. Jika gejala terkendali dan pola makan dijaga dengan baik, puasa dapat dijalani dengan aman. Konsultasi dengan tenaga medis tetap dianjurkan agar ibadah berlangsung lancar tanpa mengorbankan kesehatan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index