Ini Kondisi Medis yang Membuat Kehamilan di Usia 40-an Tidak Disarankan

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:34:02 WIB
Ini Kondisi Medis yang Membuat Kehamilan di Usia 40-an Tidak Disarankan

JAKARTA - Kehamilan di usia 40-an memerlukan perhatian khusus karena risiko medis yang meningkat. 

Tidak semua perempuan di usia ini memiliki kondisi kesehatan yang memungkinkan untuk hamil. Beberapa penyakit kronis dan gangguan organ membuat tubuh sulit beradaptasi terhadap perubahan besar selama kehamilan.

Dokter spesialis kandungan Andon Hestiantoro menegaskan bahwa dalam beberapa kondisi, kehamilan dapat mengancam nyawa ibu. Situasi medis tertentu justru membuat kehamilan tidak disarankan secara medis. "Ada kondisi yang sangat membahayakan nyawa ibu sehingga kehamilan sangat tidak disarankan," ujarnya.

Selain faktor kesehatan, kehamilan di usia ini juga berisiko bagi janin. Perubahan hormonal dan beban fisiologis tubuh dapat memengaruhi perkembangan janin. Oleh karena itu, evaluasi medis menyeluruh menjadi langkah awal yang wajib sebelum memutuskan kehamilan.

Kondisi Jantung dan Paru yang Membahayakan

Penyakit jantung atau gangguan paru berat menjadi salah satu kondisi yang sangat berisiko untuk hamil. Kehamilan meningkatkan volume darah dan menambah beban kerja jantung. Pada perempuan dengan gangguan jantung berat atau hipertensi pulmonal, risiko gagal jantung meningkat tajam.

Kondisi ini juga dapat memicu komplikasi serius selama kehamilan. Risiko kelahiran prematur lebih tinggi pada perempuan dengan penyakit jantung bawaan. Dampaknya tidak hanya pada ibu, tetapi juga pada keselamatan dan kesehatan janin.

Oleh sebab itu, perempuan dengan penyakit jantung berat disarankan untuk menunda kehamilan. Konsultasi dengan spesialis jantung dan kandungan perlu dilakukan sebelum merencanakan kehamilan. Langkah ini bertujuan meminimalkan risiko komplikasi dan memastikan keselamatan ibu dan bayi.

Gagal Ginjal dan Kanker Aktif

Gagal ginjal kronis termasuk kondisi yang sangat berisiko untuk kehamilan. Fungsi ginjal yang menurun drastis, apalagi pasien yang memerlukan cuci darah, membuat kehamilan berpotensi membahayakan nyawa ibu. Kehamilan pada kondisi ini dapat memperburuk kesehatan ibu dan janin sekaligus.

Kondisi medis lain yang tidak dianjurkan untuk hamil adalah kanker aktif yang sedang menjalani pengobatan. Terapi radiasi dan kemoterapi dapat membahayakan kesehatan ibu serta mengganggu tumbuh kembang janin. Paparan pengobatan ini dapat menyebabkan cacat lahir, gangguan organ, hingga kematian janin.

Sehingga perempuan dengan kondisi ini perlu mempertimbangkan alternatif lain. Pilihan seperti adopsi atau surogasi dapat menjadi jalan aman bagi mereka yang tetap ingin memiliki anak. Keputusan ini harus diambil berdasarkan saran medis dan pertimbangan keselamatan jangka panjang.

Riwayat Komplikasi Kehamilan dan Sirosis Hati

Riwayat komplikasi kehamilan sebelumnya juga menjadi faktor penting. Perempuan yang pernah mengalami perdarahan hebat atau plasenta akreta memiliki risiko tinggi mengulang komplikasi serupa. "Pada kasus seperti itu, dokter akan menjelaskan risiko mortalitas yang tinggi dan menyarankan alternatif lain misal adopsi atau surogasi," jelas Andon.

Selain itu, sirosis hati berat termasuk kondisi yang membahayakan kehamilan. Gangguan fungsi hati meningkatkan risiko perdarahan selama kehamilan maupun persalinan. Penyakit hati stadium lanjut juga mengganggu keseimbangan hormonal yang penting untuk ovulasi dan menstruasi.

Beberapa wanita dengan sirosis yang menunggu transplantasi hati mengalami gangguan menstruasi, sehingga kemungkinan hamil menurun signifikan. Kesuburan diperkirakan berkurang hingga 40 persen pada orang dengan sirosis. Kondisi ini membuat perencanaan kehamilan menjadi sangat kompleks dan berisiko tinggi.

Pentingnya Konsultasi Medis dan Kesiapan Kesehatan

Kehamilan di usia 40-an kini semakin sering terjadi. Namun, dokter menekankan keputusan untuk hamil harus didasarkan pada kesiapan kesehatan, bukan sekadar keinginan. Konsultasi medis menjadi langkah penting agar perempuan dan pasangan memahami risiko secara menyeluruh.

Keselamatan ibu tetap menjadi prioritas utama dalam setiap perencanaan kehamilan. Penilaian kesehatan, riwayat penyakit, dan evaluasi risiko harus menjadi dasar keputusan hamil. Dengan langkah ini, risiko komplikasi dapat diminimalkan dan kehamilan lebih aman bagi ibu dan janin.

Kehamilan di usia matang tetap memungkinkan, asalkan didukung kondisi tubuh yang sehat. Pola hidup sehat, pengawasan dokter, dan perencanaan matang akan membantu memastikan kehamilan berlangsung aman. Dengan demikian, kesehatan ibu dan janin tetap menjadi fokus utama dalam proses kehamilan.

Terkini