RI Siap Mengatur Impor Kedelai dari AS Agar Pasokan Tetap Seimbang

Selasa, 24 Februari 2026 | 13:12:03 WIB
RI Siap Mengatur Impor Kedelai dari AS Agar Pasokan Tetap Seimbang

JAKARTA - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk menjaga pasokan kedelai nasional tetap stabil. 

Rencana impor kedelai dari Amerika Serikat mencapai 3,5 juta ton per tahun menjadi perhatian pengusaha. Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) menekankan agar jumlah impor disesuaikan dengan kebutuhan domestik yang sekitar 2,7–2,9 juta ton.

Ketua Umum Akindo, Hidayatullah Suralaga, menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah memperkuat hubungan dagang dengan AS. 

Ia mengingatkan, pasokan impor harus realistis agar tidak menimbulkan kelebihan stok di dalam negeri. Pemerintah pun perlu menyeimbangkan komitmen impor dengan produksi lokal agar rantai pasok tetap terjaga.

Kebutuhan Domestik dan Tantangan Pasokan

Hidayatullah menilai, target impor 3,5 juta ton cukup berat diserap pasar domestik saat ini. “Cukup berat untuk diserap sepenuhnya oleh pasar domestik dalam kondisi saat ini,” ujarnya. Jika direalisasikan, hal ini bisa memunculkan kelebihan pasokan serta memengaruhi struktur impor dari negara non-AS.

Pengalihan pasokan secara drastis berpotensi mengganggu hubungan jangka panjang importir swasta dengan pemasok lain. Selama ini, perusahaan telah membangun kerjasama yang stabil dengan negara selain AS. Perubahan arah pasokan perlu dikaji agar tidak mengganggu keseimbangan perdagangan dan rantai distribusi yang sudah terbentuk.

Selain itu, Hidayatullah menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan impor dengan program peningkatan produksi lokal. Pemerintah tengah mendorong swasembada kedelai agar kebutuhan nasional dapat lebih mandiri. Impor yang berlebihan justru bisa menghambat upaya pengembangan produksi dalam negeri.

Program Konsumsi dan Diversifikasi Produk

Akindo menyoroti peran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam meningkatkan konsumsi protein nabati. Namun, hingga kini dampaknya terhadap kebutuhan kedelai nasional belum signifikan. Hidayatullah menilai perlu adanya dorongan diversifikasi produk olahan kedelai, seperti tempe dan turunannya.

Diversifikasi ini tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik tetapi juga ekspor. Dengan demikian, peningkatan impor dapat diimbangi oleh perluasan pasar bagi produk olahan. Langkah ini membantu menjaga keseimbangan antara ketersediaan bahan baku dan konsumsi di dalam negeri.

Pengembangan produk olahan juga membuka peluang usaha bagi industri kecil dan menengah. Hal ini mendukung pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Pemerintah dan asosiasi kedelai pun berupaya mendorong inovasi produk agar pasokan kedelai dapat dimanfaatkan optimal.

Komitmen Pemerintah dalam Perdagangan Resiprokal

Pemerintah menyatakan komitmen untuk membeli produk pertanian dari AS melalui Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART). Dokumen ini menetapkan nilai pembelian sebesar US$4,5 miliar atau sekitar Rp75,88 triliun. Salah satu komoditas utama dalam kesepakatan tersebut adalah kedelai, termasuk kedelai utuh dan bungkil kedelai.

Secara rinci, Indonesia akan mengimpor minimal 3,5 juta ton kedelai utuh per tahun selama lima tahun pertama. Setelah periode itu, volume impor dijaga tetap di atas 2,5 juta ton per tahun. Sedangkan bungkil kedelai ditargetkan minimal 3,8 juta ton per tahun pada lima tahun pertama, dan setelahnya tetap lebih dari 200.000 ton per tahun.

Haryo Limanseto menyatakan, produk pertanian asal AS akan dimanfaatkan untuk bahan baku industri makanan, minuman, dan sektor tekstil. Pemerintah akan memfasilitasi pengaturan komersial agar alokasi impor tepat sasaran. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan kebutuhan industri dan pasar domestik.

Keseimbangan Impor dan Produksi Lokal

Hidayatullah menegaskan, komitmen impor harus sejalan dengan kebutuhan nasional. Konsumsi kedelai dalam negeri saat ini berada di kisaran 2,7–2,9 juta ton per tahun, sehingga jumlah impor 3,5 juta ton berisiko berlebih. Pengusaha meminta kajian lebih realistis agar struktur impor tidak merugikan produsen lokal.

Selain itu, keseimbangan ini penting agar kebijakan impor tidak menghambat upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Pemerintah pun didorong untuk mendukung pengembangan industri olahan kedelai. Dengan demikian, pasokan kedelai dapat memenuhi kebutuhan pangan, pakan, dan ekspor tanpa menimbulkan kelebihan stok.

Akindo juga mendorong agar impor kedelai dari AS dapat diselaraskan dengan strategi nasional untuk swasembada. Diversifikasi produk olahan kedelai menjadi salah satu solusi agar peningkatan impor tetap membawa manfaat. Dengan pengaturan yang tepat, pemerintah dapat menjaga stabilitas pasar kedelai dan mendorong pertumbuhan industri lokal.

Terkini