Nikmati Gorengan Rumahan yang Lebih Sehat untuk Menu Buka Puasa

Selasa, 24 Februari 2026 | 10:12:22 WIB
Nikmati Gorengan Rumahan yang Lebih Sehat untuk Menu Buka Puasa

JAKARTA - Momen berbuka puasa sering kali identik dengan sajian gorengan yang hangat dan menggoda selera. 

Banyak orang memilih membuatnya sendiri di rumah dengan harapan kualitasnya lebih terjaga. Pertanyaannya, benarkah gorengan rumahan lebih sehat untuk dikonsumsi saat berbuka.

Anggapan bahwa gorengan buatan rumah lebih baik muncul karena proses pengolahannya bisa diawasi langsung. Mulai dari pemilihan bahan hingga penggunaan minyak goreng, semuanya berada dalam kendali sendiri. Hal ini berbeda dengan gorengan yang dijual di luar yang prosesnya tidak selalu diketahui secara pasti.

BBanyak yang beranggapan gorengan yang dimasak sendiri di rumah untuk berbuka puasa menjadi 'lebih sehat'. Lantas, bagaimana faktanya menurut dokter? Penjelasan medis diperlukan agar masyarakat tidak sekadar berasumsi.

Penjelasan Dokter Spesialis Jantung

Menanggapi ini, spesialis jantung dan pembuluh darah dr Yislam Aljaidi, SpJP, FIHA, mengungkapkan gorengan yang dimasak sendiri dianggap 'lebih sehat' itu karena penggunaan minyaknya. Faktor minyak menjadi perhatian utama dalam proses menggoreng makanan. Terutama karena kualitas minyak sangat memengaruhi kandungan lemak pada makanan.

"Sebenarnya itu karena penggunaan minyaknya ya. Jadi, kita nggak tahu kan kalau di luar itu dia (minyak) sudah dipakai berapa kali," jelas dr Yislam saat ditemui di Cibubur, Kamis (19/2/2026). Pernyataan ini menyoroti pentingnya transparansi dalam proses memasak.

"Apa disaring atau dia memang murni minyak dari baru," lanjutnya. Ia menekankan bahwa konsumen tidak selalu mengetahui kondisi minyak yang digunakan penjual. Inilah yang membuat gorengan rumahan dianggap lebih aman.

Dampak Penggunaan Minyak Berulang

dr Yislam menjelaskan memasak dengan minyak yang sudah dipakai berkali-kali bisa mengganggu kesehatan tubuh. Penggunaan minyak berulang dapat memicu perubahan komposisi lemak. Ini akan berpengaruh pada kadar kolesterolnya.

Jika minyak yang digunakan sudah dipakai dan dipanaskan berkali-kali, kadar kolesterolnya jahat relatif tinggi. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan gangguan kesehatan jantung dalam jangka panjang. Berbeda dengan makanan yang digoreng menggunakan minyak baru.

"Ketika dia menggunakan minyak yang baru, memang kadar kolesterolnya tidak setinggi kita menggunakan minyak yang sudah berulang-ulang digunakan," terang dia. Artinya, kualitas minyak sangat menentukan dampak gorengan terhadap tubuh. Penggunaan minyak baru bisa menekan risiko yang lebih besar.

Minyak yang dipanaskan berulang kali dapat mengalami oksidasi. Proses ini menghasilkan senyawa yang kurang baik bagi kesehatan. Karena itu, penting untuk memperhatikan seberapa sering minyak dipakai.

Di rumah, seseorang bisa memastikan minyak tidak digunakan terlalu banyak kali. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa gorengan rumahan dianggap lebih sehat. Kendali penuh atas bahan menjadi nilai tambah tersendiri.

Namun demikian, penggunaan minyak baru bukan berarti gorengan sepenuhnya bebas risiko. Kandungan lemak tetap ada dan harus diperhitungkan dalam pola makan harian. Konsumsi berlebihan tetap dapat berdampak kurang baik.

Pentingnya Pola Makan Seimbang

Meski begitu, dr Yislam tetap menekankan pentingnya mengatur pola makan agar tetap seimbang. Ia mengingatkan bahwa tubuh membutuhkan berbagai zat gizi untuk berfungsi optimal. Ada kandungan serat, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan lain sebagainya.

"Jadi boleh saja sesekali, tapi jangan terlalu sering. Tetap pentingkan gizi yang lain, proteinnya harus tinggi protein, karbohidratnya cukup dengan makanan lemak sehat, nah itu lebih penting," tegasnya. Pesan ini menjadi pengingat agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi gorengan.

Saat berbuka puasa, tubuh memang membutuhkan asupan energi dengan cepat. Namun, pilihan makanan tetap harus diperhatikan agar tidak memicu masalah kesehatan. Mengombinasikan gorengan dengan makanan bergizi lainnya bisa menjadi solusi yang lebih bijak.

Serat dari sayur dan buah membantu menjaga keseimbangan pencernaan. Protein berperan penting dalam memperbaiki jaringan tubuh setelah seharian berpuasa. Sementara itu, lemak sehat dapat diperoleh dari sumber yang lebih baik dibanding gorengan.

Karbohidrat juga tetap dibutuhkan sebagai sumber energi utama. Pemilihannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Dengan pola makan yang tepat, risiko gangguan kesehatan bisa diminimalkan.

Bijak Menikmati Gorengan Saat Ramadan

Gorengan memang sulit dipisahkan dari tradisi berbuka puasa. Rasanya yang gurih dan teksturnya yang renyah sering menjadi favorit banyak orang. Namun, kebiasaan ini tetap perlu dikendalikan.

Membuat gorengan di rumah memberi keuntungan dalam hal kontrol bahan dan minyak. Setidaknya, penggunaan minyak baru bisa dipastikan lebih terjaga kualitasnya. Meski demikian, jumlah konsumsi tetap harus dibatasi.

Menjadikan gorengan sebagai selingan, bukan menu utama, bisa menjadi langkah bijak. Dengan begitu, kebutuhan gizi lainnya tetap terpenuhi secara seimbang. Pendekatan ini membantu menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Kesimpulannya, gorengan rumahan bisa lebih terkontrol dari sisi penggunaan minyak. Namun, kunci utama tetap terletak pada frekuensi dan keseimbangan pola makan. Dengan sikap bijak, momen berbuka puasa tetap nikmat tanpa mengorbankan kesehatan.

Terkini