JAKARTA - Bursa saham Asia-Pasifik membuka perdagangan Senin pagi dengan penguatan.
Kenaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan tarif global yang diumumkan Amerika Serikat. Investor memperlihatkan optimisme meski risiko geopolitik dan perdagangan masih membayangi pasar regional.
Pengumuman Presiden Donald Trump menaikkan tarif global dari 10% menjadi 15% menimbulkan dinamika baru. Langkah ini mengikuti putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar agenda perdagangan melalui IEEPA 1977. Meski sebagian tarif dibatalkan, efek kebijakan tetap dirasakan oleh mitra dagang utama AS.
Kepala Ekonom Rystad Energy menilai bahwa kerangka tarif belum sepenuhnya dibongkar. Jika batas atas tarif diberlakukan tanpa pengecualian IEEPA, rata-rata tarif dapat meningkat lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap perdagangan internasional masih ada meski ada keputusan pengadilan.
Kinerja Bursa Asia Terhadap Kebijakan Tarif
Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat untuk sesi ketiga berturut-turut. Lonjakan mencapai 1,7% ke level rekor tertinggi baru. Saham berkapitalisasi besar seperti SK Hynix dan Samsung Electronics masing-masing naik lebih dari 3% dan 2%.
Indeks Kosdaq juga mencatatkan penguatan sebesar 0,74%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik tipis 0,17% pada awal perdagangan. Sementara itu, pasar China dan Jepang tutup karena hari libur, sehingga pergerakan regional sedikit terbatas.
Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 26.855, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen investor tetap positif. Pergerakan ini menjadi indikasi bahwa pasar Asia mencoba menyesuaikan diri dengan berita kebijakan tarif AS.
Dampak Harga Komoditas Terhadap Sentimen
Harga minyak mentah tercatat melemah di perdagangan awal pekan. Minyak Brent turun 0,6% ke US$71,33 per barel, sementara WTI melemah 0,78% ke US$65,96 per barel. Penurunan ini menghapus kenaikan sebelumnya yang sempat terjadi di pasar energi.
Penurunan harga minyak dapat memengaruhi sektor energi di bursa Asia. Investor memperhitungkan harga bahan bakar sebagai faktor penting dalam menentukan valuasi saham energi. Meskipun melemah, pasar tetap mencermati potensi rebound dalam jangka pendek.
Selain itu, pergerakan komoditas lain juga menjadi perhatian. Fluktuasi harga logam dan energi menjadi indikator sentimen pasar global. Hal ini berimplikasi pada keputusan investasi di saham perusahaan manufaktur dan pertambangan.
Respons Investor dan Strategi Pasar
Presiden Laffer Tengler Investments menilai putusan Mahkamah Agung menjadi kemunduran sementara bagi agenda perdagangan Trump. Namun, hal ini bukan akhir dari kebijakan tarif AS secara keseluruhan. Negara mitra dagang seperti Vietnam dan India diimbau untuk mempertimbangkan strategi mereka agar tetap memanfaatkan kesepakatan dagang.
Investor menunjukkan sikap berhati-hati namun optimistis. Kenaikan indeks di bursa AS pada Jumat sebelumnya memberikan dorongan positif. S&P 500 naik 0,69%, Nasdaq Composite menguat 0,9%, dan Dow Jones bertambah 0,47% setelah sempat turun 200 poin akibat data ekonomi yang mengecewakan.
Pasar Asia menyesuaikan diri dengan sentimen ini. Investor memperhitungkan risiko perdagangan dan potensi volatilitas harga saham. Strategi diversifikasi dan pemilihan saham unggulan menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian.
Outlook dan Proyeksi Pasar Asia
Penguatan bursa Asia diperkirakan akan berlanjut seiring adaptasi investor terhadap kebijakan tarif AS. Sentimen positif dari lonjakan saham Korea Selatan dan Australia memberi sinyal optimisme. Bursa regional cenderung menguat meski risiko geopolitik dan tarif global tetap ada.
Kebijakan AS memengaruhi keputusan investasi jangka pendek maupun menengah. Investor akan memantau perkembangan tarif, komoditas, dan kebijakan perdagangan lain. Dengan pendekatan hati-hati, pasar Asia dapat memanfaatkan momentum penguatan awal pekan.
Kondisi ini menjadi pelajaran penting bagi pelaku pasar. Respons terhadap keputusan pengadilan dan kebijakan tarif harus diimbangi strategi yang matang. IHSG dan bursa Asia lainnya kemungkinan akan terus bergerak fluktuatif namun tetap berada dalam tren positif jangka pendek.
Keseluruhan, pasar Asia menghadapi kombinasi peluang dan risiko. Kenaikan saham utama mencerminkan optimisme investor. Sementara itu, ketidakpastian tarif global tetap menjadi faktor penentu arah pasar dalam beberapa pekan mendatang.